Breaking

Friday, September 14, 2018

Batik Tanah Liek Sumatera Barat

Batik Tanah Liat
Batik Tanah Liek / Batik Tanah Liat (Image by batiktanahliat.co.id)
Berawal dari menyaksikan acara adat di kampungnya, daerah Kenagarian Sumanik, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat, tahun 1993, Hj. Wirda Hanim, Bertekad untuk memproduksi kembali Batik Tanah Liek, dikarenakan kain yang dipakai oleh para Datuak dan Bundo Kanduang tampak kusam dan sobek sana sini karena lapuk. Bahkan pada saat mengenakannya pun sangat berhati-hati diakibatkan oleh tuannya kain tersebut. Hal ini ia ketahui setelah mencari informasi bahwa batik tanah liek tidak diproduksi lagi sejak 70 tahun lalu.

Bermodalkan tekad yang kuat, Ibu Hj. Wirda Hanim, berniat untuk memperbaharui kain tersebut. Sedangkan beliau tidak memiliki ilmu membatik. Pada saat itu, beliau menemui guru batik di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Padang, yang kini menjadi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dengan cara berkunjung langsung ke sekolah dan rumahnya, dengan harapan bisa bekerjasama. Tetapi, guru tersebut hanya menyuruh siswanya saja. Walaupun begitu Ibu Hj. Wirda Hanim tetap membiayainya, mulai dari membeli kain dan obat-obatan membatik, namun hasil para siswa ini tidak memuaskan. Akhirnya Ibu Hj. Wirda Hanim tidak melanjutkan kerjasama itu.
Batik Tanah Liek
Contoh Batik Tanah Liek (Image by Google)
Hal tersebut tidak membuat Ibu Hj. Wirda Hanim putus asa. Beliau mencoba membuat ulang motif kain kuno ke kertas. Bukan itu saja, beliau juga membuat motif yang terdapat di Rumah gadang. Hal terserbut ia lakukan lebih kurang selama 6 bulan.

Tepat pada saati itu, Dewan Kerajinan Nasional Provinsi Sumatera Barat mengadakan pelatihan batik tanak liek dengan jatah peserta sebanyak 20 orang yang berasal dari Kabupaten Solok dan 10 orang lagi dari Kabupaten Pesisir Selatan. Kota padang memang tidak diikut sertakan karena kebanyakan Orang Padang memiliki usaha bordir "Monalisa". Walaupun tidak ada jatah peserta, Ibu Hj. Wirda tetap ingin ikut. Akhirnya beliau ikut dengan biaya sendiri. Namun, pelatihan yang diikutinya masih belum memuaskan.

Pada tahun 1995, dengan meminta izin suami, Ruslan Majid, beliau pergi ke Yogyakarta sekaligus meminjam uang sebanyak Rp. 20.000.000,- sebagai modal dengan tujuan untuk belajar batik disana. Berselang hanya 2 hari saja, beliau pun kembali ke Padang. Selain merasa tidak betah, beliau jugak tidak bisa meninggalkan usaha bordirnya dengan karyawan sebanyak 20 orang yang menetap dirumahnya. Ibu Hj. Wirda Hanim meminta kepada Dewan Batik Yogyakarta mengirimkan pengajar batik ke padang yang beliau kontrak selama 3 bulan. Tapi sebelumnya, Ibu Hj. Wirda Hanim menitipkan contoh kain Batik Tanah Liek dengan harapan dapat dibuatkan motif dan warna sesuai contoh kain tersebut. Sesampainya dipadang, pengajar dan seorang pemuda yang dibawanya dari Yogyakarta tersebut masih belum mampu membuat kain Batik Tanah Liek sesuai contoh yang diberikan, bahkan setelah 2 bulan bekerja dengan beliau di Padang, tidak satu lembar kain pun yang berhasil menyerupai warna kain Batik Tanah Liek.
Batik Tanah Liek
Contoh Batik Tanah Liek (Image by Google)
Berkat kegigihannya, yang telah menghabiskan modal banyak dengan membeli kain sutra, Obat-obatan batik serta peralatan membatik, tidak membuatnya putus asa. Tepat seminggu sebelum kontrak pengajar dari Yogyakarta habis, Ibu Hj. Wirda Hanim teringat pelajaran membuat warna hiasan kue ulang tahun yang pernah diikutinya di Jakarta. Beliau melakukan uji coba dengan warna kimia untuk batik, seperti mencari warna yanga sesuai dengan Batik Tanah Liek yang warnanya mirip tanah. Dari 10 lembar kain, yang masing-masingnya berukuran 2 meter, hanya 2 lembar saja yang menyerupai warna Batik Tanah Liek.

Namun begitu, Ibu Hj. Wirda Hanim tetap melakukan eksperimen dengan menggaji karyawan khusus batik. Sejak itu, beliau memproduksi Batik Tanah Liek dengan bahan kimia. Sehingga pada saati itu, dinamakan merk hasil produksinya Batik Tanah Liek "Citra Monalisa". Tapi tetap saja, Batik Tanah Liek kuno dibandingkan dengan batik buatannya masih sangat berbeda. Pada suatu ketika, beliau pulang kampung dan bertanya kepada seorang ibu yang ada disana. "Kenapa Batik ini dinamakan Batik Tanah Liek ?", dan ibu itu pun menjawab bahwa Batik Tanah Liek ini pada dasarnya diwarnai dengan tanah dan motifnya diwarnai dengan tumbuh-tumbuhan. Beliau lalu melanjutkan pertanyaannya "Tumbuh-tumbuhan apa saja yang bisa diambil ?" dan ibu tersebut melanjutkan jawabannya yaitu gambir, rambutan, pinang, dan lain-lain. Berdasarkan informasi itulah, Ibu Hj. Wirda Hanim mencoba mencari tahu pembuatan dan ketahanannya.

Akhirnya, setalah 10 tahun mencoba, barulah beliau mendapatkan Batik Tanah Liek sesuai dengan contoh yang ada sekaligus telah dipatenkan dengan nama "BATIK TANAH LIEK". Modal yang dulu pernah beliau pinjam dari suaminya, sudah terlunasi berkat bantuan dari Pertamina pada tahun 1997, bantuan pinjaman pertama yang beliau terima, Menurut informasi yang beliau dapat dari Ibu Upik Rauda Tayib, seorang tokoh Budayawan asal Sumatera Barat, Batik Tanah Liek berasal dari Cina, bukan dari Jawa.

Sampai Sekarang, Ibu Hj. Wirda Hanim tetap melestarikan Batik Tanah Liek yang berada dikediaman sekaligus showroom beliau yaitu Jalan Sawahan Dalam, No. 33, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat. Bukan itu saja, beliau juga mendapatkan berbagai penghargaan baik dari pemerintah maupun swasta, seperti Upakati Award pada tahun 2006 atas jasa melestarikan produk tradisional seni dan budaya Indonesia, serta Markplus pada tahun 2014 sebagai Marketeer of the Year.